Psikotes Massal Lembaga Keuangan
24 Januari 2022
Worth It Tidak sih Menambahkan Body Positivity Dalam Gaya Hidup Kita?
31 Januari 2022

Body-Positivity Trend Gen-Z; Bagian Peningkatan Kesehatan Mental Era Modern atau Ancaman Obesitas?

Penulis : Astrid Ananda Hermanto & Farah Fakhirah

[masterslider id=”7″]
Memiliki bentuk tubuh yang sesuai dan selalu mengikuti standart ideal menurut masyarakat bukanlah perkara yang mudah. Menanggapi hal tersebut di

tahun 2021 banyak sekali pengguna media sosial menggaungkan hastag body- positivity. Bahkan disalah satu media sosial yakni Instagram sudah ada lebih dari 5

juta postingan dengan #bodypositivity dan #bodypositive dengan jumlah postingan lebih dari 16 juta (Instagram, Desember 2021). Body positivity itu sendiri, diidentifikasikan dengan sikap menanamkan pola pikir positif dalam menerima diri sendiri apa adanya. Selama bertahun-tahun, body positivity terus berkembang baik dari segi positif maupun negatif. Tujuan dari gerakan body positivity ini yaitu, untuk menghilangkan atau mengatasi standar kecantikan yang tidak realistis, mempromosikan penerimaan diri, dan membangun harga diri melalui peningkatan citra diri, serta belajar mencintai diri sendiri sepenuhnya (Cwynar-Horta, 2016). Namun dibalik tujuan yang amat positif tersebut, gerakan body positivity juga mampu meningkatkan tingkat obesitas pada sebagian pendukungnya. Banyak yang mengira gerakan ini adalah menerima apa adanya dengan “pasrah” tanpa memperhatikan kesehatan fisik. Inilah yang menyebabkan kasus obesitas meningkat.

Melihat begitu maraknya hastag body positivity sebagai bagian dari pop-culture, membuat kalangan remaja usia 16-18 tahun baik itu perempuan ataupun

laki-laki juga mengikuti trend tersebut tanpa tahu lebih jelas apa arti sesungguhnya tentang body positivity. Namun body positivity tidak muncul begitu saja, karena sesungguhnya sudah ada yang namanya positive body image. “Body image adalah persepsi penampilan fisik diri sendiri. Mispersepsi berat badan pada remaja dapat menyebabkan rasa ketidakpuasan terhadap tubuh dan obesitas pada remaja. Jenis kelamin juga berperan dalam obesitas remaja dan body image. Remaja yang obes memiliki risiko penyakit tidak menular lebih besar dibandingkan remaja dengan berat badan normal.” (Pertiwi et al, 2020). Dan uniknya, sebuah penelitian yang membahas positive body image mengatakan bahwa terdapat kaitan antara soal

positive body image, gender, tingkat obesitas, dan sosial-ekonomi orang tua siswa pada body positivity itu sendiri. Menurut McWhorter (2020) mengatakan, “Obesitas adalah penyakit kronis dengan faktor risiko yang mencakup keseimbangan energi positif, yang terutama disebabkan oleh perubahan “obesogenik” yang mencakup pertumbuhan ekonomi, kelimpahan, makanan murah dan miskin nutrisi, industrialisasi, dan gaya hidup menetap.” Di dalam penelitian tersebut mereka menggunakan lima puluh tujuh siswa, yang dimana empat puluh siswa laki-laki dan tujuh belas siswa perempuan. Dengan rentang usia 16 hingga 18 tahun, yakni jumlah rentang usia 16 tahun sebanyak tiga puluh sembilan siswa, 17 tahun sebanyak tujuh belas siswa, dan 18 tahun berjumlah satu siswa. Subjek penelitian tersebut juga memperhatikan factor umur, gender, aktifitas fisik, dan kondisi sosial-ekonomi orang tua. Pada karakteristik aktifitas fisik dengan tingkat rendah sebanyak dua puluh dua siswa, dan dengan aktifitas fisik sedang sebanyak tiga puluh lima siswa. Siswa dengan orang tua berpenghasilan tinggi sebanyak dua puluh tiga siswa dan siswa pada penghasilan rendah sebanyak tiga puluh empat. Nahhh, sedangkan pada siswa yang cenderung obesitas sebanyak tiga belas siswa, beruntungnya pada penelitian tersebut menemukan lebih banyak siswa tidak obesitas yakni sebanyak empat puluh empat siswa. Mengapa faktor pada karakteristik subjek perlu diperhatikan? Karena dengan melihat faktor-faktor karakteristik subjek penelitian kita dapat melihat dengan jelas kolerasi antara gender, umur, kondisi sosial-ekonomi orang tua, dan tingkat obesitas pada siswa. Hasilnya subjek kajian penelitian terhadap ketidak beragaman analisis tentang body image, melaporkan memiliki sebuah pandangan positive body image kurang lebih sebanyak 2,50. Penelitian tersebut juga mengatakan bahwa tingkat positive body image laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan secara signifikan. Hal itu berkaitan erat dan dapat dilihat dengan jelas pada faktor-faktor yang sudah desebutkan diatas. Beserta dengan akses para siswa berdasarkan bagaimana lingkungan ia tumbuh, yang pastinya berkaitan erat dengan sosisal-ekonomi orang tua yang memungkinkan siswa dalam memiliki pandangan body posistivity.

Hubungan tingkat obesitas, gender, dan body image ternyata saling berkaitan. Yang dimana didalam penelitian tersebut, tingkat obesitas perempuanlebih tinggi dari pada laki-laki secara signifikan. Yakni, sejumlah 9 siswa perempuan mengalami obesitas sedangkan siswa laki-laki sebanyak 4 remaja.
Tingkat obesitas pada siswa laki-laki maupun siswa perempuan juga tidak lepas kaitannya dari tingkat aktifitas fisik. Seperti yang kita tahu aktifitas fisik laki-lakilebih banyak dari pada perempuan. Selain hal tersebut, tingkat obesitas pada siswa perempuan dapat meningkat akibat ketidakpuasan pada penggambaran diri sendiri dan melampiaskannya pada rasa senang memakan maknan yang minim akan gizi. Hal itu-lahh, yang juga mempengaruhi persoalan body positivity. Yang dimana perempuan selalu dituntut memiliki penampilan menarik nan epic seperti model dalam iklan kecantikan komersial di berbagai media. Gerakan body positivity memang sangat positif untuk dilakukan dalam meningkatkan kesehatan mental pada remaja, bahkan hingga menjadi sebuah trend di sosial media untuk menggaungkan betapa pentingnya kesehatan mental dewasa ini. Namun, jika dalam konteks yang kurang tepat dapat mengakibatkan kesalahan pahaman yang fatal kepada masyarakat. Kasus obesitas yang terjadi dari gerakan ini sudah dapat membuktikan bahwa kita harus mengenal lebih dalam lagi makna dan arti dari body positivity itu sendiri. Tidak hanya dengan mengartikan menerima tubuh dengan “pasrah” tanpa memikirkan kesehatan fisik yang bisa mengakibatkan berbagai macam penyakit kronik dan tidak menular. Menerapkan konsep body image yang baik juga dapat membantu kita lebih memahami cara penerapan gerakan body positivity. Selain itu, dapat disimpulkan bahwa perlu adanya kajian lebih dalam tentang persoalan body positivity dalam implementasinya di kehidupan sehari-hari.

Daftar Pustaka:
Jessica, Cwynar-Horta. (2016). The Commodification of the Body Positive
Movement on Instagram Stream: Culture/Politics/Technology 2016, 8(2), 36-56.
Vita, Pertiwi., Balgis., & Yusuf, Ari, Mashuri. (2020) The influence of body image
and gender in adolescent obesity Health Science Journal of Indonesia, 10, 22-435.